Senin, 25 Juli 2011

Faktor Yang Mempengaruhi Kepribadian Manusia


Mempelajari kepribadian manusia itu menarik. Coba bayangkan, dari 2 milyar manusia yang ada di dunia ini tidak ada satupun yang sama persis, baik secara bentuk dan karakternya. Sekalipun anda memiliki dua orang yang sama persis dan dibesarkan dalam lingkungan yang juga 100% sama, saya yakin anda akan memiliki dua orang pribadi yang berbeda. Ada banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian atau karakter manusia ini terbagi dalam faktor internal dan eksternal, jika dirumuskan diantaranya :

  1. Faktor Genetik
  2. Faktor Pendidikan
  3. Faktor Lingkungan
  4. Faktor Trauma Masa Kecil
  5. Faktor Agama dan Budaya

Mari kita bahas satu persatu !

Faktor Genetik

Ini dimaksud bahwa faktor genetik/keturunan juga dapat menentukan sifat/karakter seseorang yang kadang disebut sifat bawaan dari lahir. Hal ini mutlak terjadi karena seorang ayah atau ibu akan menurunkan sifat secara genotip maupun fenotip, gak percaya? coba buka lagi bab pelajaran biologi temen-temen.


Faktor Pendidikan

Kalau ini mungkin tidak perlu dijelaskan lagi, temen-temen pasti tahu maksudnya. Ya karena hakikat pendidikan adalah untuk memperbaiki sesuatu yang kurang beradab menjadi beradab, dsb. Sebagaimana kalau teman-teman baca sejarah Islam, dalam era Rasulullah disebut sebagai generasi/kaum madani.

FAKTOR LINGKUNGAN

Sebagai makhluk yang lemah dan tak berdaya, manusia membutuhkan orang lain untuk menyokong hidupnya. Seorang bayi manusia membutuhkan waktu bertahun-tahun sampai dia bisa mencari makan sendiri. Dari satu bulan hingga setahun dia bisanya cuman makan, minum, netek, nangis, dan ngengek. Dia membutuhkan orang lain untuk memberinya semua itu. Lewat dari setahun pun masih belum bisa masak, bekerja, dan mendapatkan gaji bulanan. Kalo dipaksakan, memang ada anak usia empat tahun yang bisa mencari makan sendiri, itupun dengan cara duduk di lampu merah dan menadahkan tangannya terus dapet cepek atau gopek. Namun semuanya tetap dari bantuan orang lain yang berhati budiman bukan ?

Poin yang ingin saya sampaikan dari cerita di atas adalah kepribadian manusia dipengaruhi oleh orang lain. Dan yang paling dominan adalah pengaruh keluarga karena inilah faktor lingkungan pertama dan utama yang akan menentukan perkembangan kepribadian sekundernya. Seorang individu yang dibesarkan dalam keluarga otoriter yang kuat, di mana cara mengungkapkan sikap dan perilaku ditentukan semata-mata oleh satu atau kedua orangtuanya (atau sosok keluarga penting lainnya) akan berbeda dengan individu lainnya yang dibesarkan dengan penuh kebebasan.

Saya mempunyai seorang saudara yang mempunyai kepribadian kuning. Ibunya adalah biru yang kuat. Tentu saja si kuning yang cenderung berantakan dan tidak bertanggungjawab mendapatkan perlawanan yang hebat dari biru. Kepribadan primernya tidak mendapatkan tempat dalam rumahnya dan juga tidak dapat berkembang dengan baik. Tetapi kuning yang cerdik selalu mendapatkan cara untuk bertindak sesuai dengan motif dasarnya. Kepribadian primernya mungkin ditekan, tetapi tidak bisa dihilangkan. Ini hukum alam dan pasti ! Apalagi kuning adalah pribadi yang paling sulit dibentuk dibandingkan tipe kepribadian lainnya. Saudara saya ini berperilaku sebagai biru ketika berada di rumah dan menjadi kuning ketika keluar dari sana. Situasi ini berlangsung selama bertahun-tahun (dari balita hingga usia 30an). Apa akibatnya bagi kepribadian si Amoy ini (anggap saja namanya Amoy).

Ketika berinteraksi dengan orang lain, misalnya dalam bekerja, si Amoy menunjukkan kepribadian biru yang teratur, disiplin, dan dewasa. Seiring dengan berjalannya waktu, dan Amoy menjadi semakin nyaman dan aman, kepribadian kuningnya mulai mengambil kendali. Dia yang awalnya rajin, disiplin, tepat waktu dan segala kualitas terbaik dari seorang biru, pelan-pelan berubah menjadi banyak bicara, pelupa, berantakan, mengampangkan segalanya, kreatif, dan serampangan. Saya rasa anda mempunyai seorang teman yang seperti ini bukan ? He…he…he… Jika anda ingin tahu kenapa teman yang anda kenal dulu telah berubah sehingga anda hampir-hampir tidak mengenalnya maka inilah jawabannya. Dia memiliki kepribadian primer kuning dan biru/merah sebagai karakter sekundernya. Kok bisa ? Inilah faktor terkuat yang mempengaruhi perkembangan kepribadian seseorang, yaitu faktor keluarga.

FAKTOR TRAUMA MASA KECIL

Tidak ada faktor negatif lainnya yang bisa mempengaruhi karakter seseorang sehebat trauma masa kecil ini. Mengapa ? Ada dua jawaban untuk pertanyaan ini. Pertama karena kepolosannya dan kedua karena penghianatan. Sesorang yang pernah mengalami kekecewaan akan sulit untuk menumbuhkan kembali rasa percayanya, entah itu percaya kepada orang lain ataupun kepada dirinya sendiri. Jika trauma masa kecilnya disebabkan oleh kedua orangtuanya, maka perkembangan kepribadiannya menjadi tidak sehat.

FAKTOR AGAMA DAN BUDAYA

Mitos : Pria Logis dan Wanita Emosional.

Pernyataan salah ini terus meluas di masyarakat kita, meyakinkan para wanita merah dan putih mereka tidak benar-benar berpikir logis, dan para pria biru dan kuning sebenarnya mereka tidak merasakan emosi yang mereka miliki. Omong kosong. Tetapi betapa sering kita mendengar komentar bias seperti “anak lelaki besar tidak boleh mangis” dan “wanita Cuma bisa menangis untuk memanipulasi” ? Kita juga takut untuk menghadapi kebenaran siapa diri kita, sehingga sering membuat komentar yang terburu-bru dan menguntungkan diri sendiri dengan mengorbankan orang lain agar kita bisa merasa lebih baik tentang diri kita. Bantulah diri anda, dan lampaui bias agama dan/atau budaya yang kaku demi merangkul identitas kepribadian sejati setiap orang.

Tentu saja, orang cepat belajar bagaimana caranya hidup di dunia ini, Jika seseorang memperoleh pesan konsisten bahwa salah untuk berperilaku dengan cara tertentu karena agama atau masyarakat mengatakan demikian, biasanya mereka menyisihkan pendapat pribadi demi bertahan hidup dan diterima oleh mereka. Beberapa individu telah mengalah begitu banyak sepanjang hidup mereka, sampai entah mereka menjadi sangat marah pada segala sesuatu, atau mereka bahkan tidak memiliki kemiripan lagi dengan siapa mereka saat lahir. Jika anda ingin membicarakan tentang tragedi manusia, itulah tragedi sesungguhnya – kehilangan jati diri sejatinya !

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar